Persyaratan Cerai Tahun 2021

Persyaratan Cerai Tahun 2021

Persyaratan Cerai Tahun 2021

Adapun persyaratan yang harus anda siapkan adalah sebagai berikut:

  1. Bagi yang beragama Islam dibutuhkan Buku Nikah Asli / Duplikat Buku Nikah jika buku nikah aslinya hilang atau rusak;
  2. Bagi yang beragama non muslim (Kristen Protestan, Katholik, Hindu, dan Budha) dibutuhkan Akte Pemberkatan Perkawinan jika ada dan Akte Perkawinan Asli yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan atau salinan / duplikatnya jika hilang;
  3. Kemudian Identitas Penggugat/ Pemohon bisa KTP atau Surat Keterangan Domisili Asli khususnya yang mengajukan Gugatan / Permohonan;
  4. Alamat lengkap Tergugat, untuk alamat harus benar-benar lengkap dan tidak boleh salah mulai dari nama Jalan, Nomor, RT, RW, Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi agar disaat sidang tidak ada masalah yang bisa berdampak gugatan/permohonan di tolak atau dicabut;
  5. Bukti-bukti surat lain yang sekiranya dapat mendukung gugatan yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang sedang anda ajukan di pengadilan, misalnya sli gaji, sertifikat tanah, bpkb, akte anak, KK dll;
  6. Terakhir adalah saksi-saksi minimal 2 (dua) orang yang mengetahui segala permasalah rumah tangga anda atau orang yang sering melihat, mendengar sering terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang bersedia hadir pada saat persidangan nantinya.

Pengacara atau Advokat adalah sesorang yang memiliki lisensi atau yang telah diangkat dan diambil sumpah sebagai advokat yang menjalankan kuasa baik didalam pengadilan (litigasi) maupun diluar pengadilan (non litigasi). Seiring dengan perkembangan zaman kehadiran Pengacara / Advokat sangat dibutuhkan terutama dalam menangani berbagai kasus seperti Perceraian, Gugatan Harta Bersama, Hak Asuh Anak, Kasus Utang Piutang, Kasus Sengketa Tanah dan berbagai kasus hukum lainnya.

Tim Pengacara

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan serta Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan adapun alasan-alasan perceraian tersebut sebagai berikut:

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selam 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa adanya alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri;
  6. Antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
  7. Suami melanggar taklik talak; dan
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *